Olahan aci seperti cireng dan cimol merupakan jajanan khas Nusantara yang populer karena memiliki tekstur khas: garing di luar dan kenyal di dalam. Namun, ada satu tantangan yang sering dialami saat menggoreng olahan berbahan dasar tepung tapioka, yaitu adonan yang meledak atau meletup di dalam minyak.
Selain dapat merusak bentuk makanan, cipratan minyak panas juga berisiko menyebabkan luka bakar. Karena itu, teknik penggorengan perlu diperhatikan sejak awal.
Kunci membuat cireng dan cimol yang renyah, mengembang, kenyal, dan lebih aman saat digoreng adalah memahami karakter adonan serta mengatur suhu minyak dengan tepat.
Sebelum membahas teknik menggoreng, penting untuk mengetahui mengapa cireng atau cimol bisa meletup ketika berada di dalam minyak panas.
Adonan tapioka mengandung air yang cukup tinggi. Ketika masuk ke dalam minyak panas, air di dalam adonan berubah menjadi uap.
Jika bagian luar adonan lebih cepat mengeras, uap tersebut dapat terperangkap di dalam. Tekanan yang semakin tinggi dapat menyebabkan kulit adonan pecah dan meletup.
Cimol yang dibentuk terlalu besar atau terlalu padat dapat membuat panas dan uap sulit keluar secara merata.
Karena itu, sebaiknya bentuk cimol tidak terlalu besar dan hindari memadatkan adonan secara berlebihan ketika membulatkannya.
Memasukkan cimol mentah langsung ke minyak yang sudah sangat panas dapat membuat permukaan luar cepat matang sementara bagian dalam masih mengandung banyak air.
Perbedaan proses pematangan tersebut dapat meningkatkan risiko adonan pecah atau meletup.
Untuk cimol, salah satu teknik yang banyak digunakan adalah cold oil start, yaitu memasukkan cimol ke dalam minyak sebelum minyak dipanaskan.
Teknik ini membuat pemanasan berlangsung secara bertahap sehingga cimol tidak langsung terkena suhu minyak yang sangat tinggi.
Tuangkan minyak secukupnya ke dalam wajan, kemudian masukkan cimol yang sudah dibentuk ketika minyak masih dalam kondisi dingin dan kompor belum dinyalakan.
Pastikan cimol tidak terlalu bertumpuk agar dapat matang lebih merata.
Nyalakan kompor dengan api kecil. Biarkan minyak dan cimol mengalami proses pemanasan secara perlahan.
Pemanasan perlahan membantu cimol matang secara lebih merata dari bagian luar hingga ke dalam. Cimol juga akan mulai mengembang secara bertahap.
Ketika cimol mulai mengapung, aduk secara perlahan menggunakan spatula atau sutil. Jangan mengaduk terlalu kasar karena dapat merusak permukaan cimol.
Setelah cimol mengembang dan bagian luarnya mulai terasa lebih kokoh, suhu dapat dinaikkan sedikit ke api sedang untuk membantu membentuk permukaan yang lebih renyah.
Setelah matang, segera angkat dan tiriskan.
Catatan keamanan: Jangan berdiri terlalu dekat dengan wajan ketika menggoreng cimol. Jika terjadi letupan, jangan panik atau langsung memasukkan air ke dalam minyak karena dapat menyebabkan percikan minyak yang jauh lebih berbahaya.
Berbeda dengan cimol, cireng biasanya memiliki bentuk yang lebih pipih sehingga teknik penggorengannya tidak selalu sama dengan cimol.
Cireng dapat digoreng menggunakan minyak yang sudah cukup panas, tetapi hindari suhu yang terlalu tinggi.
Untuk mendapatkan bagian luar yang renyah dan bagian dalam yang tetap kenyal, gunakan suhu minyak sekitar 150–165°C.
Jika tidak memiliki termometer dapur, Anda dapat menggunakan sedikit adonan sebagai indikator. Ketika adonan mulai bereaksi dan naik ke permukaan tanpa langsung berubah menjadi cokelat tua, minyak umumnya sudah cukup panas.
Hindari memenuhi wajan dengan terlalu banyak cireng sekaligus.
Jumlah cireng yang terlalu banyak dapat membuat suhu minyak turun secara drastis. Akibatnya, cireng membutuhkan waktu lebih lama untuk matang dan berpotensi menyerap lebih banyak minyak.
Goreng selama beberapa menit sambil memperhatikan perubahan warna dan teksturnya.
Cireng yang matang umumnya memiliki permukaan yang lebih kokoh, renyah, dan berwarna putih hingga sedikit keemasan, tergantung jenis adonannya.
Cireng isi memiliki tantangan tambahan karena terdapat isian di bagian dalam. Pastikan kulit cireng tertutup rapat agar isian tidak keluar ketika terkena minyak panas.
Untuk cireng frozen, hindari memasukkan produk dalam jumlah terlalu banyak sekaligus. Perubahan suhu minyak yang terlalu drastis dapat membuat hasil gorengan kurang merata.
Jika menggunakan produk frozen, ikuti petunjuk penggorengan dari resep atau produsen karena kondisi produk, ukuran, dan kadar air dapat berbeda.
| Jenis Olahan | Teknik Awal | Pengaturan Api | Indikator Kematangan |
|---|---|---|---|
| Cimol | Minyak dingin (cold start) | Api kecil → sedang | Mengapung, mengembang, permukaan mulai kokoh |
| Cireng original | Minyak cukup panas | Api sedang | Permukaan kokoh dan renyah |
| Cireng crispy | Minyak cukup panas | Api sedang | Bagian luar kering dan crispy |
| Cireng isi | Minyak panas sedang | Api sedang | Kulit matang dan isian panas |
| Cireng frozen | Sesuaikan kondisi produk | Kecil → sedang | Matang merata hingga bagian dalam |
Selain mengatur suhu minyak, beberapa hal berikut juga penting diperhatikan.
Adonan yang terlalu basah memiliki kandungan air lebih tinggi sehingga berpotensi menghasilkan lebih banyak uap ketika digoreng.
Sebaliknya, adonan yang terlalu kering juga dapat membuat tekstur produk menjadi keras.
Ukuran cimol yang terlalu besar membuat bagian dalam membutuhkan waktu lebih lama untuk matang. Ukuran yang relatif kecil dan seragam akan membantu proses pematangan lebih merata.
Saat membentuk cimol, cukup bulatkan hingga bentuknya menyatu. Hindari menekan adonan terlalu kuat.
Metode deep frying dapat membantu makanan matang lebih merata karena seluruh permukaannya bersentuhan dengan minyak.
Terutama ketika menggoreng cimol, sebaiknya jangan meninggalkan kompor. Gunakan api yang terkontrol dan tetap berhati-hati terhadap kemungkinan percikan minyak.
Membuat cireng dan cimol yang renyah tanpa meledak sebenarnya sangat bergantung pada dua hal utama, yaitu kondisi adonan dan pengaturan suhu minyak.
Untuk cimol, teknik memulai dari minyak dingin (cold oil start) dan menggunakan api kecil dapat membantu proses pemanasan berlangsung lebih bertahap. Sementara itu, cireng dapat digoreng dengan minyak yang sudah cukup panas menggunakan api sedang, tanpa membuat suhu terlalu tinggi.
Dengan teknik yang tepat, olahan aci bisa memiliki tekstur renyah di luar, kenyal di dalam, mengembang dengan baik, dan lebih aman saat digoreng.

PT GCI memproduksi tepung pati berkualitas tinggi menggunakan teknologi inovatif dan efisien. Dimulai dari kapasitas kecil, GCI telah berkembang pesat berkat fokus pada penelitian dan pengembangan serta dedikasi tim profesional kami. Tujuan utama kami adalah memberikan kualitas produk yang konsisten dengan setiap pengiriman untuk memenuhi standar tertinggi pelanggan kami.

Produk tepung tapioka dari Green Cassava Indonesia dikenal karena:
Kontrol kualitas ketat, mulai dari bahan baku hingga pengemasan.
Sertifikasi BPOM dan Halal, menjamin keamanan untuk produk pangan.
Jaringan distribusi luas, menjangkau klien industri di seluruh Indonesia.
Dengan pengalaman puluhan tahun dan komitmen pada kualitas, perusahaan ini membantu banyak pelaku usaha, dari UMKM kuliner lokal hingga industri besar yang membutuhkan tepung tapioka dalam skala besar.
Area jangakauan kami:
Konsultasikan kebutuhan usaha Anda bersama tim Green Cassava Indonesia dan temukan solusi bahan baku yang paling sesuai. Hubungi Pabrik tepung tapioka PT. Green Cassava Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran harga terbaik dan pasokan stabil langsung dari pabrik.
