Turunnya harga tapioka di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan kebijakan dalam negeri. Mulai dari membanjirnya produk impor berharga murah, melemahnya permintaan dunia, hingga ketidakseimbangan antara pasokan dan penyerapan hasil panen singkong.
Kondisi ini sempat menyebabkan harga singkong di tingkat petani anjlok, sementara industri pengolahan tapioka dalam negeri kesulitan menjual produknya. Akibatnya, rantai pasok dari petani hingga industri makanan mengalami tekanan yang cukup besar.
Salah satu penyebab terbesar adalah masuknya tepung tapioka impor, terutama dari Thailand, dengan harga yang lebih rendah dibandingkan produk lokal.
Saat itu, harga tapioka impor berada di kisaran Rp5.200 per kilogram, sedangkan biaya produksi tapioka lokal mencapai sekitar Rp5.800–Rp6.000 per kilogram. Selisih harga tersebut membuat banyak industri lebih memilih menggunakan produk impor karena dinilai lebih ekonomis.
Akibatnya, stok tepung tapioka lokal menumpuk di gudang, sementara pabrik mengurangi bahkan menghentikan pembelian singkong dari petani.
Selain impor, pasar tapioka juga dipengaruhi kondisi ekonomi dunia.
Pada periode 2024–2025, permintaan tapioka dari industri pangan dan kertas mengalami penurunan. Salah satu pemicunya adalah perubahan strategi industri di China yang mulai mengganti sebagian penggunaan tapioka dengan pati jagung (corn starch).
Kondisi tersebut menyebabkan negara produsen seperti Thailand mengalami surplus produksi dan menjual produknya ke berbagai negara dengan harga yang lebih murah, termasuk Indonesia.
Ketika pabrik tidak mampu menyerap hasil panen, harga singkong di tingkat petani ikut turun.
Di beberapa daerah sentra produksi, harga singkong bahkan sempat berada di kisaran Rp800 hingga Rp1.100 per kilogram, jauh di bawah harga yang dianggap mampu menutup biaya produksi petani.
Situasi ini membuat banyak petani mengalami penurunan pendapatan karena biaya pupuk, tenaga kerja, dan perawatan lahan tidak sebanding dengan hasil penjualan.
Untuk melindungi petani dan industri dalam negeri, pemerintah kemudian menerapkan berbagai kebijakan pengendalian impor.
Melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2025 dan Permendag Nomor 11 Tahun 2026, impor tepung tapioka diperketat melalui sistem rekomendasi teknis dari Kementerian Pertanian.
Selain itu, pemerintah juga menetapkan harga acuan singkong industri sebesar Rp1.350 per kilogram sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga keberlangsungan industri lokal.
Kebijakan pembatasan impor membawa dampak berbeda bagi industri makanan.
Di satu sisi, petani dan produsen tapioka lokal memperoleh peluang pasar yang lebih baik. Namun di sisi lain, industri pengguna tepung tapioka harus membeli bahan baku dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan saat produk impor masih mendominasi.
Pelaku UMKM seperti produsen kerupuk, cilok, bakso, pempek, mie, dan makanan olahan lainnya ikut merasakan kenaikan biaya produksi. Sebagian pelaku usaha memilih mengurangi kapasitas produksi atau menyesuaikan ukuran produk agar harga jual tetap terjangkau.
Memasuki tahun 2026, harga tepung tapioka mulai menunjukkan kondisi yang lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.
Dengan pembatasan impor dan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap komoditas singkong, pasar diperkirakan bergerak menuju keseimbangan baru. Namun, harga tetap akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
Karena itu, pelaku usaha sebaiknya tidak hanya berfokus pada harga, tetapi juga memilih supplier yang mampu menyediakan produk dengan kualitas konsisten dan pasokan yang stabil.
| Parameter | Tepung Tapioka Lokal | Tepung Tapioka Impor (Thailand) |
|---|---|---|
| Harga jual ke industri | Rp5.800–Rp6.000/kg | ±Rp5.200/kg |
| Estimasi biaya produksi | ±Rp6.000/kg | Di bawah Rp5.200/kg |
| Bea masuk | Tidak berlaku | Bebas pajak (saat itu) |
| Minat industri | Menurun | Tinggi |
| Kondisi pasar | Stok menumpuk di gudang | Lebih banyak diserap industri |
| Faktor | Dampak terhadap Harga Tapioka |
|---|---|
| Impor tapioka murah | Harga pasar domestik tertekan sehingga produk lokal sulit bersaing. |
| Permintaan global melemah | Ekspor menurun dan stok dalam negeri meningkat. |
| Perubahan permintaan dari China | Penggunaan pati jagung meningkat sehingga permintaan tapioka berkurang. |
| Surplus produksi Thailand | Produk dijual dengan harga lebih murah ke pasar ekspor, termasuk Indonesia. |
| Lemahnya regulasi impor | Produk impor masuk dalam jumlah besar saat produksi lokal melimpah. |
| Sektor | Dampak |
|---|---|
| Petani singkong | Harga singkong turun sehingga pendapatan petani berkurang. |
| Pabrik tapioka | Produksi melambat, stok menumpuk, dan pembelian singkong berkurang. |
| Industri makanan | Biaya bahan baku sempat lebih rendah saat impor mendominasi. |
| UMKM | Diuntungkan dari harga bahan baku yang murah, tetapi bergantung pada kondisi pasar. |
| Perekonomian daerah | Nilai ekonomi sektor singkong menurun di daerah sentra produksi. |
| Faktor | Prediksi |
|---|---|
| Harga tepung tapioka | Cenderung lebih stabil dibanding periode 2024–2025. |
| Impor | Lebih terkendali melalui kebijakan pemerintah. |
| Permintaan industri | Diperkirakan meningkat seiring pulihnya aktivitas industri pangan. |
| Peluang produsen lokal | Semakin besar apabila mampu menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan. |
Green Cassava Indonesia, Mitra Tepung Tapioka Berkualitas
Di tengah dinamika pasar, kualitas bahan baku menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan harga.
Green Cassava Indonesia menyediakan tepung tapioka berkualitas tinggi dengan standar mutu yang konsisten untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, UMKM, hingga industri makanan. Produk diproses dari singkong pilihan sehingga menghasilkan tepung dengan kualitas yang stabil untuk berbagai aplikasi pangan.
Penurunan harga tapioka beberapa waktu lalu dipicu oleh kombinasi impor murah, melemahnya permintaan global, serta ketidakseimbangan kebijakan pasar domestik. Dampaknya dirasakan oleh seluruh rantai pasok, mulai dari petani singkong hingga industri makanan.
Meski demikian, kebijakan pembatasan impor dan peningkatan perlindungan terhadap produk lokal diharapkan mampu menciptakan pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan. Bagi pelaku usaha, memilih supplier tepung tapioka yang berkualitas tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas produk dan kelancaran produksi.
Sedang mencari supplier dan pabrik tepung tapioka berkualitas dengan pasokan yang stabil? Green Cassava Indonesia siap menjadi mitra terpercaya bagi UMKM maupun industri makanan dengan produk premium, kualitas yang konsisten, dan layanan profesional. Hubungi tim Green Cassava Indonesia untuk mendapatkan informasi produk dan penawaran terbaik.

PT GCI memproduksi tepung pati berkualitas tinggi menggunakan teknologi inovatif dan efisien. Dimulai dari kapasitas kecil, GCI telah berkembang pesat berkat fokus pada penelitian dan pengembangan serta dedikasi tim profesional kami. Tujuan utama kami adalah memberikan kualitas produk yang konsisten dengan setiap pengiriman untuk memenuhi standar tertinggi pelanggan kami.

Produk tepung tapioka dari Green Cassava Indonesia dikenal karena:
Kontrol kualitas ketat, mulai dari bahan baku hingga pengemasan.
Sertifikasi BPOM dan Halal, menjamin keamanan untuk produk pangan.
Jaringan distribusi luas, menjangkau klien industri di seluruh Indonesia.
Dengan pengalaman puluhan tahun dan komitmen pada kualitas, perusahaan ini membantu banyak pelaku usaha, dari UMKM kuliner lokal hingga industri besar yang membutuhkan tepung tapioka dalam skala besar.
Area jangakauan kami:
Konsultasikan kebutuhan usaha Anda bersama tim Green Cassava Indonesia dan temukan solusi bahan baku yang paling sesuai. Hubungi Green Cassava Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran harga terbaik dan pasokan stabil langsung dari pabrik.
